Wikipedia

Hasil penelusuran

07 Juni 2018

Pengendalian penyakit ikan gurame


Ikan gurame segar adalah salah satu menu yang dipilih oleh masyarakat karena selain kaya protein, mineral dan vitamin, ternyata ikan memiliki keunggulan karena rendah kolestrol dan lemak yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada saat ini diprediksi sudah mulai terjadi pergesaran yang semakin besar terhadap pilihan menu makanan berprotein tinggi asal daging merah ke menu makanan berprotein tinggi daging putih atau ikan. Berdasarkan hal tersebut, prospek pasar komoditas hasil perikanan akan semakin baik dan menjadi menu utama masyarakat global.

Dengan melihat peluang pasar yang begitu besar dan terbuka luas tersebut maka memilih usaha budidaya ikan tidak akan khawatir dan kesulitan dalam memasarkan ikan hasil budidayanya. Namun demikian usaha budidaya ikan bukan berarti tidak memiliki berbagai kendala dan tantangan, seperti adanya serangan atau wabah hama penyakit ikan, pencemaran perairan baik yang berasal dari limbah domestik, pertanian maupun industri yang apabila tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerugian bagi para pelaku usaha budidaya ikan.

Hama dan penyakit yang dapat menyerang ikan budidaya dapat berasal dari jamur, parasit, bakteri maupun virus. Hama dan penyakit ikan biasanya muncul dan menyerang ikan budidaya apabila kondisi lingkungan perairan dimana ikan dibudidayakan berada pada kondisi yang ekstrim seperti; perubahan temperature air yang sangat ekstrim, perubahan struktur pH air yang ekstrim, perubahan tingkat kesadahan air yang ekstrim, perubahan salinitas air yang esktrim dan berbagai perubahan parameter air lainnya yang sangat ekstrim sehingga berpengaruh terhadap keseimbangan proses metabolisme pada tubuh ikan yang akan menyebabkan menurunya daya tahan tubuh ikan dan akhirnya menjadi lemah, dan pada kondisi tersebut berbagai jenis penyakit dapat dengan mudah menyerang ikan yang sedang budidayakan


Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) atau yang lazim dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Good Aquacultur Practice (GAP) adalah sistem atau metoda cara budidaya ikan yang dikendalikan dari faktor-faktor eksternal yang dapat bersifat merugikan dengan menerapkan cara budidaya dan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan termasuk dalam proses cara memanennya agar dihasilkan kualitas mutu produk ikan hasil budidaya dengan kualitas yang baik.

CBIB Senjata Ampuh Pengendalian Penyakit Ikan
Kunci utama dalam pengendalian hama dan penyakit ikan adalah melalui penerapan biosecurity yang menjadi salah satu bagian dari prinsip CBIB disamping aspek keamanan pangan (food safety) dan ramah lingkungan (eviromental friendly). Keamanan biologi atau lebih dikenal dengan Biosecurity merupakan upaya mencegah atau mengurangi peluang masuknya penyakit ikan ke suatu sistem budidaya dan mencegah penyebaran dari satu tempat ke tempat lain yang masih bebas. 

Namun demikian secara umum pada kenyataannya prinsip biosecurity belum sepenuhnya diterapkan pada kegiatan budidaya ikan. Kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan pola manajemen budidaya ikan yang dilakukan di negara asing yang teknologi budidaya ikannya sudah sangat maju seperti: Thailand, China dan Jepang prinsip biosecurity menjadi pertimbangan utama sebagai penentu keberhasilan budidaya ikan. Pembudidaya seringkali belum menyadari bahwa pengelolaan air bukan hanya dilakukan pada air yang masuk, namun pengelolaan air buangan budidayapun yang sangat penting untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit ikan terhadap lokasi budidaya disekitarnya. 

Mempertimbangkan fenomena di atas maka “society awareness” perlu ditanamkan terhadap para pembudidaya ikan, sehingga ada komitmen dan tanggungjawab bersama dalam upaya pencegahan terhadap kemungkinan masuknya hama dan penyakit serta kemungkinan dampak penyebaran terhadap lingkungan budidaya disekitarnya.

Terdapat beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab munculnya penyakit ikan sehingga menyebabkan kegagalan panen antara lain:
1. Kualitas benih yang rendah dan sudah terinfeksi penyakit
2. Kondisi Lingkungan tempat budidaya ikan meliputi sumber air berkualitas rendah dan terkontaminasi oleh pathogen penyebab penyakit ikan
3. Pengelolaan lingkungan tambak/kolam selama pemeliharan yang kurang baik menyebabkan kualitas lingkungan perairan berkualitas rendah dan terjadi fluktuasi kualitas lingkungan perairan yang luas selama proses pemeliharaan menyebabkan ikan mengalami stress sehingga kondisi ikan melemah, yang pada akhirnya mudah terserang penyakit.

Ditambahkan, bahwa Penyebaran penyakit ikan ini akan lebih cepat bila tataletak dan konstruksi antar petak tambak atau kolam dalam kondisi kurang baik. Konstruksi pematang yang tidak kedap sehingga menyebabkan air yang terinfeksi penyakit rembes/bocor mengalir masuk pada petak pembesaran ikan lainnya sehingga menyebabkan penularan. Penggunaan saluran inlet dan outlet secara bersamaan dengan pengaturan pengelolaan air yang tidak baik , dapat menyebabkan buangan air dari petak tambak yang terserang penyakit menular pada perairan yang digunakan sebagai sumber air untuk kegiatan budidaya di kawasan tambak lainnya.

Salah satu konsep yang saat ini telah diterapkan adalah melalui penerapan CBIB/BMPs dengan model cluster. Model ini diharapkan mampu meminimalisir serangan dan penyebaran penyakit. Ada lima prinsip dasar CBIB/BMPs untuk budidaya ikan guna mengantipasi serangan penyakit serta menjamin keamanan pangan (food safety) produk udang, yaitu:
1. Pemilihan lokasi yang sesuai dengan komoditas ikan yang dibudidayakan meliputi system irigasi baik, kualitas tanah dasar tidak tanah masam, konstruksi tambak kedap (maksimum bocoran 10%/minggu).
2. Musim tebar yang tepat dan serentak pada tambak/kolam dalam kawasan/cluster (Use an all-out, all-in, once-only stocking of participating ponds),
3. Penerapan bioskurity secara maksimal dengan menggunakan benih sehat (negative tes PCR), tandon (resevoar) atau biofilter untuk mencegah carier dan untuk perbaikan mutu air.
4. Menjaga kestabilan lingkungan tambak/kolam selama proses pemeliharaan yaitu pengelolaan air terutama Pengelolaan Oksigen terlarut pada dasar tambak/kolam dan pengelolaan pakan.
5. Memaksimalkan produk hasil perikanan yang aman pangan (food safety), berkualitas dan menguntungkan dengan tidak menggunakan pestisida dan bahan kimia lainnya yang di larang.

Beberapa tanaman disekitar kita ternyata dapat dipakai  sebagai alternatif pengobatan ikan gurame, meskipun hanya jenis tertentu. Adapun beberapa jenis tanaman yang sudah terbukti mengobati penyakit adalah sebagai berikut.

1. Kamboja (Plumeria acuminata)
a. Kandungan Kimia : akar dan daun kamboja mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Daun mengandung alkaloid
b. Bagian yang digunakan : getah daun dan batang
c. Aplikasi;
Getah daun dan batang dapat mengobati koreng ikan akibat serangan jamur Saprolegnia sp. Pengobatan dilakukan dengan cara daun kamboja dipetik pagi hari, saat pagi getah masih banyak dibanding siang dan sore hari. Dosis untuk kolam dengan luas 100 m2 membutuhkan daun sebanyak 10 kg, batang dicacah kecil-kecil lalu dimasukan ke dalam kolam hingga merata, perlakuan ini diulang setiap hari selama tiga hari.

2. Ketepeng (Cassia alata L )
a. Kandungan Kimia : kulit kayu mengandung aloe-emodin, asam krosofanat, resin, krisofanol, dan seng. Sementara asam oleat terkandung dalam biji.
b. Bagian yang digunakan : daun
c. Aplikasi;
Untuk membunuh predator dikolam, caranya setelah kolam dikeringkan aliri kolam dengan air hingga mencapai ketinggian 15 cm. Setelah itu ambil daun ketepeng sebanyak 4 kg untuk kolam seluas 100 m2 . Daun ketepeng diremas-remas didalam ember yang berisi air, lalu disaring kemudian hasil saringan tersebut dimasukan ke dalam kolam

Pembenihan Ikan Gurame


Daerah penyebaran ikan gurami antara lain Thailand, Sri Langka, Malaysia, Cina, India, dan Indonesia. Sementara itu, daerah penyebaran ikan gurami di Indonesia meliputi pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
Teknis Pembenihan
1. Pemilihan Induk
Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik:
  • Gerakan normal dan lincah.
  • Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
  • Ukuran kepala relatif kecil.
  • Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
  • Susunan sisik teratur, licin, warna cerah dan mengkilap serta tidak luka.
  • Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
  • Berumur antara 2-5 tahun.
2. Perbedaan induk jantan dan induk betina:
a. Induk Betina
  • Dahi menonjol
  • Dagu putih kecoklatan
  • Dasar sirip dada terang gelap kehitaman
  • Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak
  • Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan
b. Induk Jantan
  • Dagu kuning
  • Dasar sirip dada terang keputihan
  • Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik
  • Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih
3. Pemeliharaan Induk
Pilih 20-30 ekor untuk luas kolam 10 m2 dalam kolam penyimpanan induk. Beri pakan berupa makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg untuk tiap induk dengan berat antara 2-3 kg setiap hari pada sore hari. Beri makanan tambahan dedak halus yang diseduh air panas 2 kali seminggu dengan takaran 1/2 blek minyak tanah.

4. Kebutuhan Kolam Pemijahan

1. Kolam perawatan induk
Kolam perawatan induk berfungsi untuk mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk.

Kolam ini berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 m persegi dengan kedalaman minimum 50 cm dan kepadatan kolam berisi 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.

Jumlah induk yang disimpan pada kolam ini sangat tergantung pada jumlah induk yang dipelihara dan luas kolam yang digunakan.

Ada petani yang membuat perbandingan 1 induk jantan dan 3 induk betina. Hal yng perlu diperhatikan saat menyimpan induk di kolam pemeliharaan ialah pemberian pakan berupa daun sente untuk mempercepat proses kematangan gonad.

2. Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan merupakan kolam tanah dengan luas 200 - 300 m2. Dalam kolam ini, untuk satu ekor ikan gurame dewasa memerlukan luas 2 – 10 m2.

Suhu air yang ideal 24 – 28 derajat C dengan kedalaman air 75 – 100 cm.

Bagian dasar kolam sebaiknya diberi pasir. Letakkan sarana penempel berupa ijuk atau ranting – ranting pohon di permukaan air atau diletakkan di kedalaman 10 cm dari permukaan air.

Usahakan letaknya tidak jauh dari sosog tempat menyimpan sarang.

3. Kolam Pemeliharaan Benih atau Kolam Pendederan
Luas kolam ini tidak lebih dari 50 – 100 m2 dengan kedalaman air 30 – 50 cm. Kepadatan kolam sebaiknya 5 – 50 ekor/m2.

Lama pemeliharaan benih di dalam kolam pendederan 3 – 4 minggu. Pada saat itu, benih ikan berukuran 3 – 5 cm.

4. Kolam Pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat pemelihara dan membasarkan benih selepas dari kolam pendederan.

Adakalanya dalam pemeliharaan diperlukan beberapa kolam jaring (happa) berukuran 1,25 – 1,5 cm untuk menampung dan mendederkan benih gurame tahap awal.

Jumlah penebaran benih sebaiknya tidak leih dari 50 ekor m2.

5. Kolam Pemberokan
Kolam pemberokan berupa kolam tanah atau kolam semen dengan air yang mengalir sebagai tempat pembersihan ikan sebelum di pasarkan.

Tujuannya agar ikan tidak mengandung kotoran dan tidak berbau lumpur. Tidak ada ukuran baku untuk kolam pemberokan, yang penting ketinggian air dan luas kolam membuat gurame nyaman untuk hilir mudik.

Untuk membangun kolam harus ada rencana yang jelas mengenai jumlah kolam yang akan dibuat, tata letak, serta ukurannya.

Prinsip dasar pembuatan kolam adalah kolam harus mendapat aliran air baru, bukan air bekas dari kolam lain. 


5. Pembenihan
Induk segera masukkan ke dalam kolam pemijahan jika proses pematangan gonada (kandung telur dan sperma) di kolam penampungan sudah mencapai puncaknya. Cara pemijahan ikan gurame sebagai berikut:
  • Perbaiki tanggul dan dasar kolam dan keringkan selama 5 hari.
  • Lakukan pengapuran dan pemupukan biarkan selama 3 hari. Pemupukan dasar kolam dengan pupuk kandang dosis 7,5 kg/100 m2.
  • Dasar kolam ditanami dengan tanaman ganggang.
  • Isikan air yang telah dicampur dengan probiotik dengan pupuk kimia  SP-36 perbandingan 100 grm : 500 grm/100 meter persegi, biarkan 1 minggu kemudian tambah air sampai kedalaman 75 cm.
  • Kolam dengan luas 100 m2 disebar induk sebanyak 30 ekor betina dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung selama 1-2 hari, induk betina akan melepaskan telur-telurnya ke dalam sarang yang kemudian disemproti sperma oleh si jantan sehingga terjadi pembuahan sel telur. Jika induk-induk terpelihara baik 20-30 hari kemudian induk akan berpijah lagi, dan beberapa hari kemudian telur akan menetas.
6. Pemeliharaan Bibit
Setelah benih berumur 1-2 bulan sejak menetas, dibesarkan pada kolam pendederan. Proses pendederan yaitu benih ditebar pada kolam pendederan dengan kepadatan 30 ekor/m2 dengan ukuran benih 5-10 cm. Makanan yang diberikan selama proses pemeliharaan berupa pelet yang telah dilunakkan dengan dosis 20-30% dari berat badan rata-rata ikan. pelet halus yang diseduh air panas yang dicampur dengan cacing sutra merupakan makanan tambahan diberikan 1-2 kali dalam sehari dengan takaran secukupnya untuk 100 ekor benih ikan. Lamanya proses pendederan sekitar 1-2 bulan.

2. Pemupukan
  • Pemupukan dilakukan 1 kali dalam proses pemeliharaan,yaitu dengan Pupuk Organik dan probiotik
  • Pemupukan di lakukan sebelum ikan di masukkan ke dalam kolam.
  • Selah pemupukan di tungggu air berwarna hijau plankton
3. Pemberian Pakan
  • Makanan utama ikan gurame berupa pelet. Cara pemakaian peletnya di campurkan dengan produk merk dagang tertemtu yang berupa vitamin + suplemen
  • Dianjurkan menggunakan probiotik
  • Bisa juga di tambahkan makanan alternatif berupa dedaunan seperti daun pepaya, ketela pohon, keladi, genjer, kimpul, kangkung, ketimun, ubi jalar, labu dan dadap.
4. Pemeliharaan Kolam
  • Setelah panen bersihkan kolam dengan cara dikuras.
  • Dilakukan pengeringan dasar kolam dan apabila dirasa PH rendah bersifat asam perlu diadakan pengapuran
  • Dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk organik yang sudah jadi, atau pemupikan dengan sedikit kompos atau probiotik sebagai peningkatan kandungan unsur hara untuk penumbuhan plankton.
7. Panen
  • Untuk pemanenan benih yang dilakukan setelah berumur 1 bulan. Caranya surutkan air sedikit demi sedikit, pasang jaring lembut di pintu keluar untuk menampung benih atau buat parit di tengah kolam menuju ke lubang keluar. Bibit yang terawat baik bobotnya bisa mencapai 0.3 gram/ekor saat dipanen.
  • Untuk panen hasil pembesaran tergantung dari permintaan konsumen. Pemanenen dilakukan pada pagi hari dengan cara air disurutkan. Kemudian ikan ditangkap satu persatu.

25 Mei 2018

manajemen pemberian pakan ikan


Pemberian pakan buatan untuk ikan harus dilakukan secara benar dan hati-hati supaya pertumbuhan ikan dapat berlangsung normal. Dengan demikian diharapkan tidak akan terjadi pemborosan. pemakaian pakan ikan buatan dipengaruhi oleh unsur cara pemberiannya, frekuensi pemberian, jumlah ransum perhari, suhu air dan keadaan lingkungan. Untuk benih yang masih kecil pakan diberikan dengan menyerakkannya secara merata diseluruh permukaan air apabila makanan ikan berbentuk cairan maka sebaiknya pemberian pakan dilakukan dengan alat penyemprot (sprayer).
Apabila pakan ikan yang berbentuk tepung dan remah dapat diberikan dengan cara ditaburkan menggunakan tangan pada tempat dan waktu yg sama (tetap). Tempat pemberian pakan sebaiknya ditetapkan didekat pintu pengeluaran air agar ikan terbiasa untuk menunggu makanannya di tempat tersebut pada waktu yg telah ditentukan, selain itu sisa-sisa pakan yg tidak termakan oleh ikan tidak tersebar kemudian membusuk di seluruh kolam. Pakan ikan buatan  diberikan secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit sesuai kebiasaan makannya. Apabila kira-kira sepertiga dari jumlah ikan-ikan yang ada sudah tidak mau lagi memakan makanan yang dilemparkan maka pemberiannya segera dihentikan, jika sudah diberikan pakannya secara teratur maka ikan anda akan jauh lebih sehat dan siap untuk dipanen.
Berdasarkan jumlah pakan yang harus diberikan dalam suatu usaha budidaya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :
1.    Pemberian pakan secara berlebihan (excess)
Pemberian pakan secara berlebihan atau biasa disebut ad libitum merupakan salah satu cara pemberian pakan yang biasa diberikan pada fase pemberian pakan untuk larva ikan sampai ukuran benih ikan pada suatu hatchery. Pada stadia tersebut tingkat konsumsi pakan masih tinggi hal ini berkaitan dengan kapasitas tampung lambung larva atau benih ikan masih sangat terbatas, struktur alat pencernaan yang masih belum sempurna dan ukuran bukaan mulut larva yang masih sangat kecil, sehingga dengan memberikan pakan dengan sekenyangnya atau ad libitum dimana pakan selalu tersedia dalam jumlah yang tidak dibatasai maka larva atau benih ikan ini dapat makan kapanpun juga sesuai dengan keinginan ikan. Tetapi pemberian pakan secara berlebihan pada fase setelah larva atau nebih akan membawa dampak yang merugikan bagi sistem perairan dalam suatu usaha budidaya. Dimana pakan ikan yang berlebihan akan berpengaruh langsung terhadap organisme akuatik (ikan) yang hidup dalam wadah budidaya dan kondisi lingkungan budidaya tersebut.

Pakan ikan yang berlebihan tidak akan dimakan oleh ikan dan akan terjadi penumpukan pakan pada wadah budidaya di dasar perairan. Penumpukan pakan ikan didasar budidaya akan tercampur dengan hasil buangan ikan seperti feses, urine yang nantinya akan menghasilkan bahan-bahan toksik seperti amoniak, H2S dan sebagainya yang dihasilkan dari perombakan bahan-bahan organik tersebut. Kandungan toksik yang tinggi dalam wadah budidaya akan menyebabkan aktivitas ikan dan terganggu. Oleh karena itu manajemen pemberian pakan pada ikan harus dilakukan dengan benar disesuaikan dengan melihat jenis dan umur ikan, lingkungan perairan serta teknik budidaya yang digunakan.
2.    Pemberian pakan sekenyangnya (satiation)
Pada sistem pemberian pakan sekenyangnya adalah suatu usaha para pembudidaya ikan untuk melakukan pemberian pakan pada ikan yang dibudidayakan dalam jumlah yang maksimal. Hal ini dapat dilakukan pada ikan budidaya yang benar-benar sudah diketahui daya tampung lambungnya secara maksimal dalam setiap pemberian pakan, sehingga pakan ikan yang diberikan semuanya dikonsumsi oleh ikan. Tetapi dalam kenyataannya sangat sulit bagi para pembudidaya untuk menerapkan sistem pemberian pakan ini karena untuk menghindari pakan yang terbuang itu sangat sulit. Oleh karena itu dalam pemberian pakan secara maksimal akan mudah diterapkan jika ikan yang dibudidayakan sudah terbiasa dengan jumlah pemberian pakan tersebut setiap hari berdasarkan pengalaman di lapangan.
3.    Pemberian pakan yang dibatasi (restricted)
Pemberian pakan tipe ini adalah pemberian pakan buatan yang biasa dilakukan dalam suatu usaha budidaya ikan dimana para pembudidaya melakukan pembatasan jumlah pakan yang diberikan setiap hari. Jumlah pakan yang aka diberikan setiap hari ini dibatasi berdasarkan hasil suatu penelitian dengan jumlah pakan tertentu akan diperoleh pertumbuhan ikan yang optimal. Pemberian pakan dalam budidaya ikan secara intensif biasanya jumlah pakan yang diberikan dibatasi jumlahnya berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman dilapangan.
Berdasarkan peralatan yang digunakan dalam melakukan pemberian pakan pada usaha budidaya ikan, ada beberapa metode pemberian pakan yang dapat dilakukan yaitu:
1.        Pemberian pakan dengan tangan
Pemberian pakan dengan cara metode pemberian pakannya menggunakan tangan (disebar). Metode pemberian pakan dengan tangan ini biasanya disesuaikan dengan stadia dan umur ikan yang dibudidayakan.
2.        Pemberian pakan secara mekanik
Pemberian pakan dengan cara menggunakan alat bantu pakan yang digerakkan oleh tenaga mekanik, seperti demand feeder dan automatically feeder yang biasa digunakan pada budidaya ikan di kolam air deras.
3.        Pemberian pakan di Hatchery
            Pada beberapa unit hatchery ikan air laut atau ikan air tawar biasanya dibutuhkan suatu alat bantu untuk memudahkan proses pemberian pakan. Pada stadia larva ikan merupakan fase kritis dimana pada fase tersebut dibutuhkan pakan yang tepat jenis, ukuran dan jumlah dimanayang dimasukkan kedalam pipapipa adalah pakan alami yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga pipa yang berisi pakan alami ini masuk kedalam wadah pemeliharaan secara otomatis.
Selain itu yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengelolaan pemberian pakan adalah melakukan pencatatan pemberian pakan yang biasa disebut dengan Feeding record. Dengan membuat suatu catatan tentang pemberian pakan pada setiap kolam budidaya akan memudahkan untuk memantau perkembangan setiap kolam budidaya.

  Inti dalam manajemen pemberian pakan adalah kualitas pakan dan kuantitas pakan dapat cukup memenuhi kebutuhan ikan untuk tumbuh. rentang pemberian pakan teratur dan terjadwal, serta merk pakan atau jenis pakan disarankan jangan diganti-ganti selama siklus budidaya. kemudian pemberian pakan jangan berlebihan serta terkontrol, dalam artian pemberian pakan ketika ikan sehat dan ketika ikan sakit itu akan sangat jelas berbeda baik jumlah maupun waktunya, karena ikan sakit harus terlebih dahulu dipuasakan hingga sembuh.