Wikipedia

Hasil penelusuran

27 Januari 2021

teknis pembenihan dan pendederan benih ikan gurame

 

Gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi, bahkan bisa dikatakan sebagai primadonanya ikan air tawar. Namun, di balik semua itu gurami mempunyai kelemahan jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, yaitu masa pemeliharaan yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut para pembudidaya ikan melakukan pentahapan dalam budidaya. Salah satu tahapan dalam budidaya tersebut adalah penetasan telur dan pendederan. Permasalahan yang sering muncul pada tahapan ini adalah para pembudidaya ikan kadang-kadang kurang memperhatikan kesehatan telur yang dihasilkan, sehingga hasilnya juga tidak optimal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan usaha penetasan telur dan pendederan ikan gurami di akuarium. Dengan menggunakan akuarium, kita dapat mengamati pertumbuhan ikan dan dapat mengontrolnya dengan lebih mudah. Selain itu, kendala kendala yang ada seperti pH air, suhu air, kebersihan dan tingginya mortalitas dapat diatasi.
 
Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :

  1. Pengambilan telur
Telur yang akan didederkan bisa berasal dari kolam pemijahan milik sendiri, bisa juga berasal dari sumber lain. Jika berasal dari kolam milik sendiri , langkah lanjutan (setelah menyiapkan akuarium) dalam melakukan pendederan adalah mengambil telur-telur tersebut dari sarangnya. Sarang yang boleh dipanen untuk diambil telurnya adalah sarang yang sudah tertutup penuh. Pengambilan harus dilakukan secara hati-hati sebab biasanya induk gurami lebih galak saat menjaga sarang tersebut.
Setelah sarang diambil, kumpulan telur di sarang dikeluarkan. Dengan menggunakan saringan teh, bersihkan sarang dari kotoran dan minyak yang ada. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan di bak terbuka atau ember besar. Setelah bersih, kumpulan telur siap untuk dimasukan ke dalam akuarium yang telah disiapkan. 
 
  1. Penetasan telur
Memasukan telur yang telah bersih ke dalam akuarium bisa dilakukan dengan menggunakan saringan the. Ciduklah telur dari dalam bak atau ember besar, lalu masukan dalam akuarium. Saat menciduk, jangan lupa untuk menghitung jumlah telur. Jumlah maksimal telur yang dimasukan ke dalam setiap akuarium adalah 800 telur (besarnya akuarium 100 cm x 50 cm x 40 cm).
Pastikan bahwa telur yang dimasukan adalah telur yang hidup. Telur yang hidup mempunyai ciri berwarna kuning kemerahan dan mengkilat. Sebaliknya telur yang mati berwarna kuning keputihan dan kusam. Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat diserang cendawan berwarna putih yang disebut  Saprolignea. Setelah terserang, telur yang mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup. Karenanya, telur yang mati lebih baik secepatnya dibuang dari akuarium dengan cara mengambilnya dengan saringan the.
Telur hidup yang berkembang dengan baik akan menetas menjadi larva. Untuk menjaga agar larva yang terbentuk tidak mengalami kelelahan akibat naik ke permukaan air dan turun lagi ke dasar akuarium, akuarium pada tahap awal cukup diisi air setinggi 6 cm. Oksigen dialirkan dalam jumlah tidak terlalu besar sehungga tidak terjadi guncangan besar yang akan mematikan telur.

  1. Perawatan larva
Setelah berumur 3 hari, larva sudah mulai bergerak berputar-putar dan ekor larva mulai tumbuh, sehingga memungkinkan larva dapat berenang. Pada hari ke 7, larva sudah berbentuk ikan kecil, dan memiliki tanda bulatan warna kuning di bagian perutnya. Bagian kuning ini berfungsi sebagai sumber makanan cadangan. Karenanya, larva tidak memerlukan makanan tambahan. Makanan cadangan tersebut akan habis (ditandai dengan hilangnya warna kuning di perut larva) pada hari ke sembilan atau kesepuluh. Pada saat ini kondisi larva sangat lemah dan mudah sekali mati. Untuk menghindari terjadinya kematian pada larva, sebaiknya makanan tambahan disiapkan sebelum makanan cadangan di tubuh larva habis.

  1. Perwatan benih

Tahap pembenihan dimulai ukuran gabah (umur 10 hari) ke ukuran kuku (umur 3 minggu) atau dari ukuran gabah ke ukuran jempol (1 bulan) atau dari ukuran gabah ke ukuran silet (umur 2 bulan). Setelah mencapai ukuran kuku atau silet, benih siap dipindahkan ke kolam tanah (tradisional). Dari pengalaman, pembenihan sampai ukuran jempol idealnya di akuarium, setelah itu dipindahkan ke kolam. Pasalnya, pada ukuran jempol benih sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah.

19 Januari 2021

Beberapa Teknis Budidaya Tubifex untuk Pakan Alami Ikan

 

Cacing sutra/tubifek merupakan salah satu jenis pakan alternatif bagi ikan lele ukuran bibit. Cacing tubifek dikenal juga dengan sebutan cacing rambut. Tubuhnya berukuran kecil, ramping, bulat dan terdiri atas 30-60 segmen. Tubuh cacing tubifek terdiri dari dua lapis otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya antara 10-30 mm dengan warna tubuh kemerah-merahan. Spesies ini mempunyai saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus.

Cacing tubifek biasanya hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya. Cacing ini hidup berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.
Sebagaimana cacing lain,spesies ini merupakan jenis hermaprodit dan berkembang biak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Telur cacing tubifek terjadi dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk blat dan dibentuk oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur yang ada dalam kokon mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari, embrio cacing akan keluar dari kokon.

Budidaya cacing tubifek dapat dilakukan di parit beton atau pada kolam. Kolam yang digunakan bisa berukuran kecil atau besar yang diberi petakan papan di dalmnya.

  1. Cara Budidaya Di Parit
Wadah untuk membudidayakan cacing tubifek adalah parit beton atau kotak kayu dengan lebar 50 cm panjang 5-10 m, lebar 50 cm dan tinggi 20-30 cm, yang telah dilapisi plastik. Media budidaya yang digunakan berupa campuran kotoran ayam segar dan lumpur kolam dengan perbandingan 1 : 1. media ini diratakan di dasar parit dengan ketebalan 5 cm dan selanjutnya diairi dengan debet 900 per menit.

Sehari setelah media diairi air, bibit cacing tubifek ditebarkan sebanyak 2 g untuk setiap meter persegi media. Untuk menjaga keberadaan pakan cacing, setiap minggu sekali dilakukan pemupukan dgn kotoran ayam yg diberikan untuk pemupukan ulang sebanyak 9 % dari jumlah kotoran ayam awal.

Setelah 2 bulan pemeliharaan, cacing sudah dapat dipanen. Selanjutnya panen dilakukan setiap 2 minggu sekali. Cara memanennya, cacing diambil secara acak pada populasi yang padat dgn bantuan serokan kemudian dimasukan ke ember yg sdh diberi air. Cacing yang diambil biasanya masih kotor karena media pemeliharaan ikut terbawa. Agar cacing keluar dari medianya, permukaan ember ditutup selama 6 jam. Biasanya setelah 6 jam cacing akan naik ke permukaan air. Cacing yang bergerombol di permukan ini selanjutnya diambil dengan tangan.

  1. Cara Budidaya Di Kolam
Pada prinsipnya, budidaya cacing tubifek  di kolam sama dengan budidaya di parit. Untuk itu, kolam dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tercipta suasana seperti parit tempat budidaya cacing. Untuk keperluan ini bisa digunakan papan-papan kayu yang dibuat berbentuk kubus dgn ukuran sekitar (1x1)m. Pada dua sudut kotak yang berseberangan secara diagonal dibuat coakan yang berfungsi sebagai inlet dan outlet.

Kotak-kotak ini ditanam sebagian di dasar kolam dengan bagian yang menonjol ke permukaan sekitar 10 cm. Karena  posisi coakan sebagai inlet dan outlet maka coakan ini sebaiknya terletak di bagian yang tidak ditanam. Bagian tanah di dalam kotak digemburkan dengan dicangkul selanjutnya dipupuk. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang yang telah bersih dari bahan-bahan lain dan dihaluskan. Pupuk ini dicampurkan dengan tanah dalam kotak secara merata. Setelah proses pemupukan selesai, kolam diisi air dengan ketinggian sekitar 5 cm. biarkan selama 3-4 hari untuk proses pembusukan.

Aliran air ke dalam kolam dikontrol dan diusahakan debet air yang mengalir ke dalam kolam dan masing-masing kotak relatif kecil. Bibit cacing dapat ditanam dengan membuat lubang di tanah kemudian bibit tersebut dimasukan ke dalam lubang tersebut. Selama masa pemeliharaan, aliran air harus dikontrol dan jangan sampai kolam kekeringan. Panen dilakukan dengan mengambil cacing menggunakan cangkul kecil secara acak pada populasi yang padat.