Wikipedia

Hasil penelusuran

19 Oktober 2020

teknis pengolahan ikan Nila

 Ikan nila juga termasuk dalam jenis ikan yang dapat dijadikan sebagai komoditas ketahanan pangan. Mengingat kecepatan tumbuh serta reproduksi ikan nila yang menakjubkan, perkembangan budi daya ikan ini mampu mengimbangi budi daya ikan mas, khususnya di daerah Jawa Barat. Ikan ini diharapkan dapat menjadi salah satu ikon penyelamat perkembangan budi daya ikan air tawar karena teknologi pemeliharaannya sudah berkembang dengan baik. Namun, permasalahan yang ada di masyarakat saat ini yaitu kualitas benih dan induk yang kurang memadai. Akibatnya, produktifitas dan laju pertumbuhannya menurun. Selain itu,masalah serangan bakteriStreptococcus turut andil dalam menurunkan produktifitas ikan nila di beberapa daerah.


B. Karakteristik
Dari habitat yang berbeda untuk spesies yang sama akan berbeda karakteristiknya terutama untuk tekstur daging, komposisi kimia dan rendemen daging. Hal ini erat kaitannya dengan salinitas media perairan dan ketersediaan makanan pada habitat.Perbedaan yang sangat mendasar antara ikan air tawar dan ikan laut (salinitas tinggi) terletak pada tekstur dagingnya. Tekstur daging ikan air tawar lebih lembek dari pada ikan laut.

C. Tekstur daging ikan nila
Ciri-ciri organoleptik ikan nila pada penyimpanan suhu dingin
Pre Rigor: Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobekdaging dari tulang belakang.
Rigor : Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang.
Post Rigor : Agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang.
Deteriorasi : Sangat lunak, bekas`jari tidak hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang.

D. Kandungan gizi
Komposisi gizi ikan nila per 100 gram daging yang dapat dimakan :
Kadar`air : 73,83 – 79,5
Protein : 19,53 – 18,65
Lemak : 3,51 – 0,55
Abu : 0,91 – 1,30

E.Ukuran
Ukuran ikan nila yang dipanen pada saat berumur 3 – 3,5 bulan memiliki rata-rata ukuran 4 – 8 ekor / kg. Secara bisnis, hasil pembesaran ikan nila di keramba jaring apung seringkali lebih baik dibandingkan ikan mas. Untuk daerah Cirata, hasil panen ikan nila mencapai 600 – 800 kg, sedangkan di daerah Jatiluhur mencapai 1 -1,2 ton. Perbedaan hasil panen ini dipengaruhi oleh perbedaan kualitas air di kedua waduk tersebut. Waduk Cirata relative lebih tercemar dibandingkan waduk Jatiluhur.

F. Preparasi Ikan Nila
Pengembangan industri hasil perikanan membutuhkan pengembangan cara-cara preparasi sebagai salah satu kegiatan yang sangatpenting dalam proses pengolahan. Preparasi mernpunyai peranan yang penting dalam penentuan mutu. Bahan pangan hasil perikanan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk bahan bakunya, sebagian dapat dibentuk sesuai produk olahan yang akan dibuat. Preparasi yang baik diarahkan pada pengolahan hasil perikanan dengan zero waste system (produk tanpa limbah).
Preparasi merupakan suatu kegiatan penanganan ikan setelah dipanen dan ditangkap sehingga siap untuk diolah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses preparasi adalah bagaimana cara mematikan ikan, penyiangan, pembentukan,pencucian sampai menjadi produk yang siap untuk dikonsumsi.Preparasi bertujuan untuk mempermudah dalam pengolahan, mempertahankan mutu,memperbaiki penampakan (ukuran dan bentuk), dan untuk mengetahui rendemen dari bagian yang diambil.
Tersedianya hasil perikanan yang telah dipreparasi (ready to cook) atau siap saji (ready to eat)akan dapat meningkatkan konsumsi hasil perikanan dan sekaligus akan meningkatkan penghasilan nelayan dan petani ikan. Hal ini dikaitkan dengan beberapa alasan orang enggan mengkonsumsi ikan diantaranya adalah: tidak praktis, mudah busuk, sulit mempreparasinya dan lain-lain. Apalagi saat ini sebagian besar wanita bekerja di luar yang memerlukan segala sesuatunya yang cepat, praktis, aman, halal,menarik dan murah. Hasil perikanan yang telah dipreparasi adalah jawabannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses preparasi adalah identihkasi jenis, penimbangan (bobot), sortasi (rnutu, ukuran, dan jenis), penyiangan, pembentukan,pencucian, pengemasan dan penyimpanan. Pada semua tahapan ini prinsip yang harus diterapakan adalah dengan C3Q(clean, careful, cold dan quick) yaitu semua peralatan dan temp at (wadah) yang digunakan harus bersih (saniter) dan yang bekerjanya sehat (higienis) secara cermat dan hati-hati dalam kondisi dingin (rantai dingin/cold chain system) dengan segera.
Rendemen dari suatu bahan dapat dipengaruhi oleh cara preparasi. Nilai rendemen sangat bervariasi. .Besarnya nilai rendemen ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah keadaan perairan (habitat), jenis ikan, ukuran dankondisi fisiologis ikan, serta rantai penanganan sejak penangkapan/pemanenan hingga preparasi. Perhitungan nilai rendemen adalah seperti formula di bawah ini
Rendemen = berat bagian yang diambil/berat utuh X IOO%.
Bentuk preparasi hasil perikanan sangat tergantung pada tujuan produk dan bentuk kaleng, demikan juga untuk ikan bakar dan sebaginya. Bahkan bentuk dari berbagai preparasi mulai dari: utuh, tanpa kepala, tanpa sirip, tanpa jeroan dan lain-lain.Beberapa definisi dari berbagai bentuk preparasi (Clucas, Ward 1996 dan Whittle,Howgate 2002) akan diuraikan sebagai berikut:

Fillet
Potongan melintang dari daging ikan secara paralel sejajar tulang punggung, berupa potongan atau irisan daging yang sebagian besar tanpa tulang memanjang dari belahan ikan disebut juga single fillet atau side misalnya pada ikan salmon.

Block fillet
Potongan daging ikan dari kedua belah sisi dari ikan dan biasanya dengan belakang, semua tulanng dilepas/dibuang kecuali pin bone. Fillet ini sering juga disebutdengan istilah: angel fillet, butterfly fillet, cutlet, double fillet, atau pada ikan asap disebut golden cutlet.

Loin
Potongan memanjang dari daging ikan besar (tuna) yang dibelah pada salah satu sisi dibagi menjadi dua potong memanjang. Pada satu ekor ikan akan terdapat 4 loin.

Steak
Potongan melintang dari loin dengan berbagai ukuran.

Guttedfish
Ikan yang sudah dibuang jeroannya. Ikan biasanya dibuang jeroannya di laut sebelum disimpan dalam es atau dibekukan. Gutting biasanya dipotong pada permukaan perut dari lubang pengeluaran ke pembukaan insang dan isi perutnya dibuang, untuk beberapa kasus pada waktu yang bersamaan kepala juga dibuang.

Splitfish
Ikan biasanya dlbelah pada saat preparasi untuk diasap atau dijemur. Tujuan pembelahan adalah untuk memperluas permukaan ikan agar cepat kering (perluasan permukaan untuk menguap) atau untuk mempermudah penyerapan garam pada proses pembuatan ikan asin misalnya untuk ikan besar (jambal roti, gabus , kerapu/sunu,kakap) dan pemerataan bumbu selama proses. Umumnyapembelahanikan diikuti oleh pembuangan jeroan tanpa pembuangan tulang.

Bonedfish
Ikan yang telah dibuang tulangnya termasuk fillet yang mungkin masih mempunyai tulang tulang kecil (pin bone atau tulang rusuk) dikategorikan sebagai boned

Boneless fish
Daging ikan yang semua tulangnya telah dibuang/dilepas.

Dressed fish
Ikan yang sudah disiangi siap untuk dimasak atau diolah untuk berbagai keperluan(diversifikasi produk).

Steaking
Potongan dari ikan yang disiapkan dengan cara memo tong ikan tegak lurus/melintang.

Gutting
Gutting dilakukan segera setelah ikan ditangakap, dengan tujuan untuk membuang bakteri yang terdapat dalam alat pencernaan agar dapat meminimumkan terjadinya risiko kontaminasi daging ikan oleh bakteri pencernaan. Ikan tanpa jeroan ini untuk wilayah subtropis/dingin (UK) yang disimpan dengan es dapat diterima konsumennya. Namun untuk daerah tropis yang lebih rentan dengan kontaminan bakteri yang berasal dari jeron. Bakteri ini akan sangat mudah berkembang biak karena suhu udara dan kelembaban yang tinggi sesuai untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Masyarakatnya tidak terbiasa membeli ikan yang tidak utuh.. Pola pikir ini perlu diluruskan demi mendapatkan mutu ikan yang baik.
Untuk keperluan dalam industri pengolahan hasil perikanan ada beberapa terminologi yang perlu diperhatikan pada proses preparasi (Fellows 1990) diantaranya adalah:

Cleaning
Wadah, peralatan, tempat dan pekerja (higienis), terutama dari kontaminan baik logam, debu (tanah dan lumpur), hewan (kumbang, kecoa, rayap) kimia (pestisida, antibiotik), mikroorganisme yang menghasilkan toksin warna dan bau. Metode cleaning terdiri sistem basah (wet) menggunakan air bersih yang telah disanitasi dengan desinfektan. Sistem kering(dry) yaitu disemprot dengan gas (uap).

Sorting
Sorting adalah pemisahan atau pemilihan dengan menyeleksi berdasarkan ukuran (size),bentuk, jenis atau spesies (shape) dan bobot secara obyektif serta warna.

Grading
Penerapan/penentuan tingkatan mutu berdasarkan atas analisis sensori sangat diperlukan keterampilan dan pelatihan. Selain analisis sensori bisa juga dengan analisis obyektif, namun memerlukan waktu yang lama dengan biaya yang relatif mahal.
Penentuan komposisi dari produk perikanan kadang-kadang memerlukan spesifikasi tertentu atau aturan-aturan. Sebagai contoh kandungan ikan pada kue ikan, atau kadar minyak pada tepung ikan yang diperlukan untuk komersialisasi atau aturan resmi.

G. Pengolahan Ikan Nila
Penanganan Paska Panen
Penanganan pascapanen difokuskan untuk ikan nila konsumsi segar yang telah mati. Hal ini karena ikan konsumsi yang telah mati akan cepat mengalami penurunan mutu jika tidak segera ditangani. Sementara untuk ikan nila konsumsi hidup tidak ada masalah, karena ikan yang hidup dan sehat tidak akan mengalami proses pembusukan secara alami.Jika tidak tertangani dengan baik nilai produk yang dijual dapat dipastikan mengalami penurunan yang cukup tajam. Akibatnya, harga jualnya tinggal setengah dari harga jual ikan hidup.
Prinsip dasar dari pemanenan yang perlu dijaga oleh pelaku usaha adalah ikan harus dapat tetap hidup setelah ditangkap dan ditampung dalam suatu wadah kecuali pada ikan nila yang dipasarkan di pasar local dapat langsung dimasukkan kedalam bak berisi es batu. Berdasarkan prinsip ini, langkah yang perlu diperhatikan dalam pemanenan yaitu tingkat stress yang dialami ikan. Semakin sedikit ikan mendapat stress maka semakin besar besar peluang ikan dapat tetap bertahan hidup.
Jika mengalami kerusakan rnikrobiologis, bahan makanan yang mengandung protein akan menghasilkan bau busuk khas protein. Bau busuk tersebut dikenal sebagai bau putrid.Sementara kerusakan yang menghasilkan bau putrid disebutkerusakan putrefaktif Kerusakan semacam ini juga dialami ikan nila yang sudah mati.
Mikroorganisme yang paling berperan dalam menyebabkan kerusakan makanan berprotein adalah bakteri. Bakteri tersebut mampu memecah protein menjadi senyawa- senyawa sederhana seperti kadaverin, putresin, skatol, H2S, dan NH3, yang menyebabkan bau busuk. Selain bau busuk, kerusakan jaringan protein jug mengakibatkan rasa makanan menjadi tidak enak serta tekstur makanan menjadi lembek dan berair.
Lemak dan minyak yang terdapat pada bahan makanan dapat mengalami pemecahan menjadi as am lemak dan gliserol. Asam lemak-terutama asam lemak tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap dapat mengalami pemecahan lebih lanjut menjadi senyawa sederhana seperti aldehid, keton, dan senyawa lain yang menimbulkan bau tengik.
Proses terjadinya kerusakan makanan karena aktivitas mikroba biasanya terjadi secara simultan dan bersama-sama. Hal ini disebabkan dalam bahan makanan biasanya selain terdapat kandungan protein, juga terkandung karbohidrat dan lemak. Oleh sebab itu tanda-tanda kerusakannyapun biasanya ada bermacam-rnacam. Kadar air rata-rata yang cukup tinggi, yaitu 70-80% dari berat ikan, menyebabkan mikroorganisme mudah berkembang.
Kandungan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin,isobutilamin, kadaverin, dan lainnya yang menyebabkan bau tidak sedap (busuk). Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh ganda berantai panjang yang sangat mudah mengalami proses oksidasi sehingga menghasilkan bau tengik.
Daging ikan memiliki susunan sellonggar sehingga komponen gizinya mudah terurai. Berbagai mikroorganisme akan menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa berbau busuk seperti indol, H2S, skatola, dan markaptan. Untuk mengetahui apakah ikan dalam keadaan segar atau tidak, berikut disajikan ciri-ciri umum keadaan ikan yang masih segar dan ikan yang telah busuk.
Penanganan rantai dingin yaitu penerapan teknik pendinginan (0-4°C) terhadap ikan seeara terus-menerus. Penanganan rantai dingin ini dilakukan tanpa terputus sejak pemanenan, penanganan,pengolahan, distribusi, hingga produk sampai ke tangan konsumen. Penanganan sistem rantai dingin harus memenuhi syarat berikut. Suhu ikan selama penanganan hingga ke tangan konsumen tidak boleh lebih dari 4°C. Teknologi dan peralatan yang digunakan dapat menjaga suhu ikan agar tidak lebih dari 4°C. Prosedur baku yang harus ditaati agar suhu ikan tidak lebih dari 4°C. Kesegaran nila yang disimpan pada suhu 0°C bertahan hingga 16 hari. Pada suhu 10°C, kesegarannya bertahan sampai enam hari. Sementara suhu 20°C hanya sampai dua hari.

Tabel. Ciri-ciri ikan segar yang yang bermutu tinggi maupun yang bermutu rendah
Parameter 
Ikan segar bermutu tinggi
Ikan segar bermutu rendah
Mata
Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih
Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea keruh
Insang
Warna merah cemerlang, tanpa lendir
Warna kusam, dan berlendir
Lendir
Lapisan lender jernih, transparan, mengkilat cerah, belum ada perubahan warna
Lender berwarna kekuningan
sampai coklat tebal, warna cerah hilang, pemutihan nyata
Daging dan perut
Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut dagingnya utuh, bau isi perut segar
Sayatan daging kusam, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut membubar, bau busuk
Bau
Segar, bau rumput laut, bau spesifik menurut jenis
Bau busuk
Konsistensi
Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang
Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang
belakang
Sumber: SNI No.01-2729.1-2006

Penanganan rantai dingin bisa dilakukan dengan menggunakan es atau freezer. Cara yang paling mudah danmurah yaitu menggunakan es, baik dalam bentuk bongkahan, balok, peeahan, maupun eurah. Perbandingan ideal antara es dengan ikan adalah 1 : 1.Perbandingan tersebut harus selalu dijaga dari waktu ke waktu. Es yang meneairharus diganti dengan es baru dalam jumlah yang sama. Dalam hal mendinginkan, es curah lebih efektif dibandingkan es balok. Tetapi es curah lebih cepat mencair. Semakin kecil ukuran butiran es, semakin cepat kemampuan mendinginkannya dan semakin mudah mencair. Selain bentuk es, tempat yang digunakan juga berpengaruh terhadap kecepatan pencairan es. Tempat yang mempunyai sifat insulator tinggi akan menghambat proses pencairan es.
Jumlah es yang dibutuhkan dibandingkan pada cuaca dll . cuaca, jarak tempuh juga harus diperhatikan. Semakin jauh jarak tempuhnya, jumlah es yang dibutuhkan semakin banyak.
Tempat yang dapat digunakan untuk mempertahankan mutu ikan, di antaranya:
blong (drum dari plastik) berisi es,
kotak pendingin (cool box) yang terbuat dari bahan polystyrene,
kotak berinsulasi (insulated box),
ruang pendingin (chill room),
refrigerator, dan
braine chilling.

Pengolahan Ikan Nila
Proses pengolahan nila dimulai dari pemilihan nila sebagai bahan baku produk yang akan dibuat. Bahan baku yang baik tentu menghasilkan produk yang baik pula.
Untuk mendapatkan bahan baku ikan nila segar mati, beberapa hal yang harus diperhatikan pada waktu membeli yaitu:
1)   Pilih ikan sebaik mungkin dengan memperhatikan ciri-ciri ikan segar (telah disebutkan dalam tabel ciri-ciri ikan segar).
2)   Hindari membeli ikan yang telah diberi zat pengawet yang tidak diijinkan, misalnya amoniak dan formalin.
3)   Jangan membeli ikan yang harganya jauh di bawah harga umum atau harga pasaran. Harga yang jauh di bawah harga umum biasanya disebabkan bahan baku tersebut telah mengalami penurunan kualitas atau diawetkan dengan pengawet yang tidak diijinkan.
4)   Untuk pembelian dalam partai besar, lakukan pengambilan contoh dengan akurat. Sampling harus mewakili setiap wadah yang digunakan.
5)   Jika produk olahan nila dijual dengan hitungan per ekor atau per biji, lebih baik memilih ikan yang berukuran hampir sama. Hal ini akan memudahkan proses pengolahan karena tidak perlu melakukan penyortiran kembali.
6)   Lebih baik membeli ikan dari pedagang yang telah dikenal agar kualitas bahan balm bisa dipertanggungjawabkan.
7)   Jika memungkinkan, pembelian dila- kukan dalam rantai pemasaran yang paling pendek..

Cara menyiangi ikan nila yaitu sebagai berikut.
1)   Matikan nila hidup terlebih dahulu dengan eara memuknl kepalanya. Alat yang biasa digunakan untuk memukul kepala ikan yaitu martil, Tempatkan nila yang sudah mati pada alas yang akan digunakan untuk menyiangi.
2)   Bersihkan ikan dengan cara mengerik sisiknya. Gunakan pisau, sendok makan, atau sikat dari kawat. Pengerikan dapat dilakukan mulai dari dekat pangkal ekor hingga dekat tutup insang.
3)   Setelah bersih, sobek perut ikan dengan pisau mulai dari bawah tutup in sang ke belakang hingga mendekati anus. Buang kotoran isi perut ikan hingga bersih.
4)   Cuci ikan dengan air hingga bersih, termasuk bagian dalam perutnya.
5)   Setelah bersih, ikan siap diolah atau dimasak sesuai keinginan.Ikan nila juga termasuk dalam jenis ikan yang dapat dijadikan sebagai komoditas ketahanan pangan. Mengingat kecepatan tumbuh serta reproduksi ikan nila yang menakjubkan, perkembangan budi daya ikan ini mampu mengimbangi budi daya ikan mas, khususnya di daerah Jawa Barat. Ikan ini diharapkan dapat menjadi salah satu ikon penyelamat perkembangan budi daya ikan air tawar karena teknologi pemeliharaannya sudah berkembang dengan baik. Namun, permasalahan yang ada di masyarakat saat ini yaitu kualitas benih dan induk yang kurang memadai. Akibatnya, produktifitas dan laju pertumbuhannya menurun. Selain itu,masalah serangan bakteriStreptococcus turut andil dalam menurunkan produktifitas ikan nila di beberapa daerah.

B. Karakteristik
Dari habitat yang berbeda untuk spesies yang sama akan berbeda karakteristiknya terutama untuk tekstur daging, komposisi kimia dan rendemen daging. Hal ini erat kaitannya dengan salinitas media perairan dan ketersediaan makanan pada habitat.Perbedaan yang sangat mendasar antara ikan air tawar dan ikan laut (salinitas tinggi) terletak pada tekstur dagingnya. Tekstur daging ikan air tawar lebih lembek dari pada ikan laut.

C. Tekstur daging ikan nila
Ciri-ciri organoleptik ikan nila pada penyimpanan suhu dingin
Pre Rigor: Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobekdaging dari tulang belakang.
Rigor : Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang.
Post Rigor : Agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang.
Deteriorasi : Sangat lunak, bekas`jari tidak hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang.

D. Kandungan gizi
Komposisi gizi ikan nila per 100 gram daging yang dapat dimakan :
Kadar`air : 73,83 – 79,5
Protein : 19,53 – 18,65
Lemak : 3,51 – 0,55
Abu : 0,91 – 1,30

E.Ukuran
Ukuran ikan nila yang dipanen pada saat berumur 3 – 3,5 bulan memiliki rata-rata ukuran 4 – 8 ekor / kg. Secara bisnis, hasil pembesaran ikan nila di keramba jaring apung seringkali lebih baik dibandingkan ikan mas. Untuk daerah Cirata, hasil panen ikan nila mencapai 600 – 800 kg, sedangkan di daerah Jatiluhur mencapai 1 -1,2 ton. Perbedaan hasil panen ini dipengaruhi oleh perbedaan kualitas air di kedua waduk tersebut. Waduk Cirata relative lebih tercemar dibandingkan waduk Jatiluhur.

F. Preparasi Ikan Nila
Pengembangan industri hasil perikanan membutuhkan pengembangan cara-cara preparasi sebagai salah satu kegiatan yang sangatpenting dalam proses pengolahan. Preparasi mernpunyai peranan yang penting dalam penentuan mutu. Bahan pangan hasil perikanan tidak selalu dikonsumsi dalam bentuk bahan bakunya, sebagian dapat dibentuk sesuai produk olahan yang akan dibuat. Preparasi yang baik diarahkan pada pengolahan hasil perikanan dengan zero waste system (produk tanpa limbah).
Preparasi merupakan suatu kegiatan penanganan ikan setelah dipanen dan ditangkap sehingga siap untuk diolah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses preparasi adalah bagaimana cara mematikan ikan, penyiangan, pembentukan,pencucian sampai menjadi produk yang siap untuk dikonsumsi.Preparasi bertujuan untuk mempermudah dalam pengolahan, mempertahankan mutu,memperbaiki penampakan (ukuran dan bentuk), dan untuk mengetahui rendemen dari bagian yang diambil.
Tersedianya hasil perikanan yang telah dipreparasi (ready to cook) atau siap saji (ready to eat)akan dapat meningkatkan konsumsi hasil perikanan dan sekaligus akan meningkatkan penghasilan nelayan dan petani ikan. Hal ini dikaitkan dengan beberapa alasan orang enggan mengkonsumsi ikan diantaranya adalah: tidak praktis, mudah busuk, sulit mempreparasinya dan lain-lain. Apalagi saat ini sebagian besar wanita bekerja di luar yang memerlukan segala sesuatunya yang cepat, praktis, aman, halal,menarik dan murah. Hasil perikanan yang telah dipreparasi adalah jawabannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses preparasi adalah identihkasi jenis, penimbangan (bobot), sortasi (rnutu, ukuran, dan jenis), penyiangan, pembentukan,pencucian, pengemasan dan penyimpanan. Pada semua tahapan ini prinsip yang harus diterapakan adalah dengan C3Q(clean, careful, cold dan quick) yaitu semua peralatan dan temp at (wadah) yang digunakan harus bersih (saniter) dan yang bekerjanya sehat (higienis) secara cermat dan hati-hati dalam kondisi dingin (rantai dingin/cold chain system) dengan segera.
Rendemen dari suatu bahan dapat dipengaruhi oleh cara preparasi. Nilai rendemen sangat bervariasi. .Besarnya nilai rendemen ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah keadaan perairan (habitat), jenis ikan, ukuran dankondisi fisiologis ikan, serta rantai penanganan sejak penangkapan/pemanenan hingga preparasi. Perhitungan nilai rendemen adalah seperti formula di bawah ini
Rendemen = berat bagian yang diambil/berat utuh X IOO%.
Bentuk preparasi hasil perikanan sangat tergantung pada tujuan produk dan bentuk kaleng, demikan juga untuk ikan bakar dan sebaginya. Bahkan bentuk dari berbagai preparasi mulai dari: utuh, tanpa kepala, tanpa sirip, tanpa jeroan dan lain-lain.Beberapa definisi dari berbagai bentuk preparasi (Clucas, Ward 1996 dan Whittle,Howgate 2002) akan diuraikan sebagai berikut:

Fillet
Potongan melintang dari daging ikan secara paralel sejajar tulang punggung, berupa potongan atau irisan daging yang sebagian besar tanpa tulang memanjang dari belahan ikan disebut juga single fillet atau side misalnya pada ikan salmon.

Block fillet
Potongan daging ikan dari kedua belah sisi dari ikan dan biasanya dengan belakang, semua tulanng dilepas/dibuang kecuali pin bone. Fillet ini sering juga disebutdengan istilah: angel fillet, butterfly fillet, cutlet, double fillet, atau pada ikan asap disebut golden cutlet.

Loin
Potongan memanjang dari daging ikan besar (tuna) yang dibelah pada salah satu sisi dibagi menjadi dua potong memanjang. Pada satu ekor ikan akan terdapat 4 loin.

Steak
Potongan melintang dari loin dengan berbagai ukuran.

Guttedfish
Ikan yang sudah dibuang jeroannya. Ikan biasanya dibuang jeroannya di laut sebelum disimpan dalam es atau dibekukan. Gutting biasanya dipotong pada permukaan perut dari lubang pengeluaran ke pembukaan insang dan isi perutnya dibuang, untuk beberapa kasus pada waktu yang bersamaan kepala juga dibuang.

Splitfish
Ikan biasanya dlbelah pada saat preparasi untuk diasap atau dijemur. Tujuan pembelahan adalah untuk memperluas permukaan ikan agar cepat kering (perluasan permukaan untuk menguap) atau untuk mempermudah penyerapan garam pada proses pembuatan ikan asin misalnya untuk ikan besar (jambal roti, gabus , kerapu/sunu,kakap) dan pemerataan bumbu selama proses. Umumnyapembelahanikan diikuti oleh pembuangan jeroan tanpa pembuangan tulang.

Bonedfish
Ikan yang telah dibuang tulangnya termasuk fillet yang mungkin masih mempunyai tulang tulang kecil (pin bone atau tulang rusuk) dikategorikan sebagai boned

Boneless fish
Daging ikan yang semua tulangnya telah dibuang/dilepas.

Dressed fish
Ikan yang sudah disiangi siap untuk dimasak atau diolah untuk berbagai keperluan(diversifikasi produk).

Steaking
Potongan dari ikan yang disiapkan dengan cara memo tong ikan tegak lurus/melintang.

Gutting
Gutting dilakukan segera setelah ikan ditangakap, dengan tujuan untuk membuang bakteri yang terdapat dalam alat pencernaan agar dapat meminimumkan terjadinya risiko kontaminasi daging ikan oleh bakteri pencernaan. Ikan tanpa jeroan ini untuk wilayah subtropis/dingin (UK) yang disimpan dengan es dapat diterima konsumennya. Namun untuk daerah tropis yang lebih rentan dengan kontaminan bakteri yang berasal dari jeron. Bakteri ini akan sangat mudah berkembang biak karena suhu udara dan kelembaban yang tinggi sesuai untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Masyarakatnya tidak terbiasa membeli ikan yang tidak utuh.. Pola pikir ini perlu diluruskan demi mendapatkan mutu ikan yang baik.
Untuk keperluan dalam industri pengolahan hasil perikanan ada beberapa terminologi yang perlu diperhatikan pada proses preparasi (Fellows 1990) diantaranya adalah:

Cleaning
Wadah, peralatan, tempat dan pekerja (higienis), terutama dari kontaminan baik logam, debu (tanah dan lumpur), hewan (kumbang, kecoa, rayap) kimia (pestisida, antibiotik), mikroorganisme yang menghasilkan toksin warna dan bau. Metode cleaning terdiri sistem basah (wet) menggunakan air bersih yang telah disanitasi dengan desinfektan. Sistem kering(dry) yaitu disemprot dengan gas (uap).

Sorting
Sorting adalah pemisahan atau pemilihan dengan menyeleksi berdasarkan ukuran (size),bentuk, jenis atau spesies (shape) dan bobot secara obyektif serta warna.

Grading
Penerapan/penentuan tingkatan mutu berdasarkan atas analisis sensori sangat diperlukan keterampilan dan pelatihan. Selain analisis sensori bisa juga dengan analisis obyektif, namun memerlukan waktu yang lama dengan biaya yang relatif mahal.
Penentuan komposisi dari produk perikanan kadang-kadang memerlukan spesifikasi tertentu atau aturan-aturan. Sebagai contoh kandungan ikan pada kue ikan, atau kadar minyak pada tepung ikan yang diperlukan untuk komersialisasi atau aturan resmi.

G. Pengolahan Ikan Nila
Penanganan Paska Panen
Penanganan pascapanen difokuskan untuk ikan nila konsumsi segar yang telah mati. Hal ini karena ikan konsumsi yang telah mati akan cepat mengalami penurunan mutu jika tidak segera ditangani. Sementara untuk ikan nila konsumsi hidup tidak ada masalah, karena ikan yang hidup dan sehat tidak akan mengalami proses pembusukan secara alami.Jika tidak tertangani dengan baik nilai produk yang dijual dapat dipastikan mengalami penurunan yang cukup tajam. Akibatnya, harga jualnya tinggal setengah dari harga jual ikan hidup.
Prinsip dasar dari pemanenan yang perlu dijaga oleh pelaku usaha adalah ikan harus dapat tetap hidup setelah ditangkap dan ditampung dalam suatu wadah kecuali pada ikan nila yang dipasarkan di pasar local dapat langsung dimasukkan kedalam bak berisi es batu. Berdasarkan prinsip ini, langkah yang perlu diperhatikan dalam pemanenan yaitu tingkat stress yang dialami ikan. Semakin sedikit ikan mendapat stress maka semakin besar besar peluang ikan dapat tetap bertahan hidup.
Jika mengalami kerusakan rnikrobiologis, bahan makanan yang mengandung protein akan menghasilkan bau busuk khas protein. Bau busuk tersebut dikenal sebagai bau putrid.Sementara kerusakan yang menghasilkan bau putrid disebutkerusakan putrefaktif Kerusakan semacam ini juga dialami ikan nila yang sudah mati.
Mikroorganisme yang paling berperan dalam menyebabkan kerusakan makanan berprotein adalah bakteri. Bakteri tersebut mampu memecah protein menjadi senyawa- senyawa sederhana seperti kadaverin, putresin, skatol, H2S, dan NH3, yang menyebabkan bau busuk. Selain bau busuk, kerusakan jaringan protein jug mengakibatkan rasa makanan menjadi tidak enak serta tekstur makanan menjadi lembek dan berair.
Lemak dan minyak yang terdapat pada bahan makanan dapat mengalami pemecahan menjadi as am lemak dan gliserol. Asam lemak-terutama asam lemak tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap dapat mengalami pemecahan lebih lanjut menjadi senyawa sederhana seperti aldehid, keton, dan senyawa lain yang menimbulkan bau tengik.
Proses terjadinya kerusakan makanan karena aktivitas mikroba biasanya terjadi secara simultan dan bersama-sama. Hal ini disebabkan dalam bahan makanan biasanya selain terdapat kandungan protein, juga terkandung karbohidrat dan lemak. Oleh sebab itu tanda-tanda kerusakannyapun biasanya ada bermacam-rnacam. Kadar air rata-rata yang cukup tinggi, yaitu 70-80% dari berat ikan, menyebabkan mikroorganisme mudah berkembang.
Kandungan enzim yang dapat menguraikan protein menjadi putresin,isobutilamin, kadaverin, dan lainnya yang menyebabkan bau tidak sedap (busuk). Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh ganda berantai panjang yang sangat mudah mengalami proses oksidasi sehingga menghasilkan bau tengik.
Daging ikan memiliki susunan sellonggar sehingga komponen gizinya mudah terurai. Berbagai mikroorganisme akan menguraikan komponen gizi ikan menjadi senyawa berbau busuk seperti indol, H2S, skatola, dan markaptan. Untuk mengetahui apakah ikan dalam keadaan segar atau tidak, berikut disajikan ciri-ciri umum keadaan ikan yang masih segar dan ikan yang telah busuk.
Penanganan rantai dingin yaitu penerapan teknik pendinginan (0-4°C) terhadap ikan seeara terus-menerus. Penanganan rantai dingin ini dilakukan tanpa terputus sejak pemanenan, penanganan,pengolahan, distribusi, hingga produk sampai ke tangan konsumen. Penanganan sistem rantai dingin harus memenuhi syarat berikut. Suhu ikan selama penanganan hingga ke tangan konsumen tidak boleh lebih dari 4°C. Teknologi dan peralatan yang digunakan dapat menjaga suhu ikan agar tidak lebih dari 4°C. Prosedur baku yang harus ditaati agar suhu ikan tidak lebih dari 4°C. Kesegaran nila yang disimpan pada suhu 0°C bertahan hingga 16 hari. Pada suhu 10°C, kesegarannya bertahan sampai enam hari. Sementara suhu 20°C hanya sampai dua hari.

Tabel. Ciri-ciri ikan segar yang yang bermutu tinggi maupun yang bermutu rendah
Parameter 
Ikan segar bermutu tinggi
Ikan segar bermutu rendah
Mata
Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih
Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea keruh
Insang
Warna merah cemerlang, tanpa lendir
Warna kusam, dan berlendir
Lendir
Lapisan lender jernih, transparan, mengkilat cerah, belum ada perubahan warna
Lender berwarna kekuningan
sampai coklat tebal, warna cerah hilang, pemutihan nyata
Daging dan perut
Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut dagingnya utuh, bau isi perut segar
Sayatan daging kusam, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut membubar, bau busuk
Bau
Segar, bau rumput laut, bau spesifik menurut jenis
Bau busuk
Konsistensi
Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang
Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang
belakang
Sumber: SNI No.01-2729.1-2006

Penanganan rantai dingin bisa dilakukan dengan menggunakan es atau freezer. Cara yang paling mudah danmurah yaitu menggunakan es, baik dalam bentuk bongkahan, balok, peeahan, maupun eurah. Perbandingan ideal antara es dengan ikan adalah 1 : 1.Perbandingan tersebut harus selalu dijaga dari waktu ke waktu. Es yang meneairharus diganti dengan es baru dalam jumlah yang sama. Dalam hal mendinginkan, es curah lebih efektif dibandingkan es balok. Tetapi es curah lebih cepat mencair. Semakin kecil ukuran butiran es, semakin cepat kemampuan mendinginkannya dan semakin mudah mencair. Selain bentuk es, tempat yang digunakan juga berpengaruh terhadap kecepatan pencairan es. Tempat yang mempunyai sifat insulator tinggi akan menghambat proses pencairan es.
Jumlah es yang dibutuhkan dibandingkan pada cuaca dll . cuaca, jarak tempuh juga harus diperhatikan. Semakin jauh jarak tempuhnya, jumlah es yang dibutuhkan semakin banyak.
Tempat yang dapat digunakan untuk mempertahankan mutu ikan, di antaranya:
blong (drum dari plastik) berisi es,
kotak pendingin (cool box) yang terbuat dari bahan polystyrene,
kotak berinsulasi (insulated box),
ruang pendingin (chill room),
refrigerator, dan
braine chilling.

Pengolahan Ikan Nila
Proses pengolahan nila dimulai dari pemilihan nila sebagai bahan baku produk yang akan dibuat. Bahan baku yang baik tentu menghasilkan produk yang baik pula.
Untuk mendapatkan bahan baku ikan nila segar mati, beberapa hal yang harus diperhatikan pada waktu membeli yaitu:
1)   Pilih ikan sebaik mungkin dengan memperhatikan ciri-ciri ikan segar (telah disebutkan dalam tabel ciri-ciri ikan segar).
2)   Hindari membeli ikan yang telah diberi zat pengawet yang tidak diijinkan, misalnya amoniak dan formalin.
3)   Jangan membeli ikan yang harganya jauh di bawah harga umum atau harga pasaran. Harga yang jauh di bawah harga umum biasanya disebabkan bahan baku tersebut telah mengalami penurunan kualitas atau diawetkan dengan pengawet yang tidak diijinkan.
4)   Untuk pembelian dalam partai besar, lakukan pengambilan contoh dengan akurat. Sampling harus mewakili setiap wadah yang digunakan.
5)   Jika produk olahan nila dijual dengan hitungan per ekor atau per biji, lebih baik memilih ikan yang berukuran hampir sama. Hal ini akan memudahkan proses pengolahan karena tidak perlu melakukan penyortiran kembali.
6)   Lebih baik membeli ikan dari pedagang yang telah dikenal agar kualitas bahan balm bisa dipertanggungjawabkan.
7)   Jika memungkinkan, pembelian dila- kukan dalam rantai pemasaran yang paling pendek..

Cara menyiangi ikan nila yaitu sebagai berikut.
1)   Matikan nila hidup terlebih dahulu dengan eara memuknl kepalanya. Alat yang biasa digunakan untuk memukul kepala ikan yaitu martil, Tempatkan nila yang sudah mati pada alas yang akan digunakan untuk menyiangi.
2)   Bersihkan ikan dengan cara mengerik sisiknya. Gunakan pisau, sendok makan, atau sikat dari kawat. Pengerikan dapat dilakukan mulai dari dekat pangkal ekor hingga dekat tutup insang.
3)   Setelah bersih, sobek perut ikan dengan pisau mulai dari bawah tutup in sang ke belakang hingga mendekati anus. Buang kotoran isi perut ikan hingga bersih.
4)   Cuci ikan dengan air hingga bersih, termasuk bagian dalam perutnya.
5)   Setelah bersih, ikan siap diolah atau dimasak sesuai keinginan.

14 Oktober 2020

skema filterisasi kolam ikan koi

 Suatu kolam Koi tidak menggunakan sistem filter, tentu akan menambah beban perawatan air kolam, sebab harus sering-sering mengganti air, untuk menghindari terjadinya tingkat pencernaan air yang berlebihan. Pada hal, jika terlalu sering mengganti air maka kondisi air kolam akan menjadi tidak stabil atau berubah-ubah dan koi sangat rentan terhadap perubahan kondisi tersebut.

Image for post

Untuk itulah maka diperlukan bangunan filter buatan yang mana tujuannya adalah untuk membantu meningkatkan fungsi penyaringan air sehingga kualitas air tetap stabil dan nyaman bagi Koi. Selain itu perlu juga di pertimbangkan dari sisi praktis agar perawatan filter dapat dilakukan dengan sederhanan dan mudah.

Satu hal lagi yang penting terhadap keberadaan filter kolam koi adalah untuk menghasilkan air yang bening, agar keindahan koi dapat dinikmati memang air kolam yang bening belum tentu baik bagi koi, sebab terdapat zat-zat kimia yang larut dalam air (tidak kasat mata) yang dapat membahayakan bagi kesehatan koi jika melebihi kadar tertentu. Sistem filter yang baik mampu mengasilkan air yang bening sebening kristal, namun tetap nyaman dan aman bagi koi. Dengan demikian hendaknya dipastikan bahwa air kolam yang bening adalah dari hasil proses filterasi yang baik dan bukan dengan cara mengganti dengan air baru.

Skema Filter Kolam Sederhana

Terdapat banyak cara atau metode untuk membuat filter kolam koi, namun pada prinsipnya adalah sama, yaitu mengalirkan air dari kolam menuju ke suatu wadah tertentu yang mana di dalamnya terdapat berbagai media atau teknik penyaringan air dan berakhir dengan air kembali lagi ke dalam kolam (sirkulasi).

Berikut ini adalah Skema Filter Kolam Sederhana :

Skema Filter Kolam Koi

Penjelasan Gambar :

Bangunan filter kolam Koi sesuai skema adalah terletak di atas kolam, sehingga air yang keluar dari ruang filter dapat jatuh kembali ke dalam kolam dengan memanfaatkan daya gravitasi bumi. Skema filter kolam koi ini cukup praktis karena bisa dibangun tanpa harus membongkar kolam yang sudah ada. Untuk kolam yang berukuran kecil (mini), wadah filter dapat dibuat dari bahan kaca atau fibreglass.

Proses fibreglass kolam di awali dari aliran air yang berasal dari kolam yang ditarik dengan menggunakan pompa air. Sebagai contoh pada skema diatas adalah dengan menggunakan submersible pump (pompa celup). Air kolam yang di tarik oleh pompa di usahakan dari dasar kolam ahar efektif membersihkan kotoran sebab di dasar kolam biasanya banyak kotoran yang terkumpul.

Ruang ke 1

Air kolam pada kesempatan pertama dialirkan menuju ke ruang ke 1 yang mana ini adalah ruang kosong (settlement chamber), hanya ada air dan tak ada media filter apapun di ruang ini. Mengapa ruang kosong? Memang tujuannya adalah agar kotoran kasar yang berasal dari kolam mengendap dan terkumpul di dasar ruang filter jika terdapat banyak kotoran yang mengendap di dasar chamber, maka mudah dibuang dengan cara membuka keran pembuangan air (Bottom Drain). Di ruang kosong ini biasanya di manfaatkan dengan sistem Vortex.

Sistem sederhana ini dimaksudkan untuk meringankan kinerja media filter lainnya. Jika kotoran kasar sudah banyak yang tersaring dan mengendap di ruang filter ke 1 maka tentu di ruang berikutnya sudah tidak terlalu banyak kotoran kasar.

Ruang ke 2

Di dalam ruang ke 2 berisi MEDIA FILTER 1 yang prinsipnya untuk menyaring kotoran kasar (kasat mata). Media yang biasa digunakan adalah Filter Mat atau Japan Mat. Bisa juga digunakan media lainnya seperti ijuk atau sikat (brush).

Jika menggunakan Filter Mat maka di bagian atas dalam ruang ini bisa diletakkan Bioball sebagai tempat persembunyian bakteri yang bermanfaat untuk menetralisir ammonia. Agar mudah merawatnya maka sebaiknya bioball sudah dimasukkan ke dalam jaring plastik (Filter Media Bag) sehingga mudah untuk mengangkatnya, bila suatu saat akan dibersihkan.

Dibagian dasar ruang ini juga telah dibuatkan lobang Bottom Drain yang berfungsi untuk membuang kotoran kasar yang mengendap tanpa harus membongkar media filternya.

Ruang ke 3

Di dalam ruang ke 3 ini tidak terdapat media filter apapun hanya berfungsi sebagai ruang by pass dengan maksud agar air masuk ke ruang berikutnya dari arah bawah. selain itu juga memberi kesempatan pada kotoran yang kebetulan lolos dari saringan untuk mengendap di dasar ruang.

Ruang ke 4

Pada ruang ke 4 ini dapat ditenpatkan MEDIA FILTER 2 antara lain berupa batu Ziolite di bagian bawah dan di atasnya boleh juga diletakkan Carbon Active atau Arang Batok Kelapa untuk memudahkan perawatan, masukkan terlebih dahulu semua media filter ke dalam keranjang atau jaring plastik sebelum di tempatkan. Batu Ziolite berfungsi untuk menyerap zat ammonia dan bubuk karbon atau arang kelapa berguna untuk menyerap bau yang tidak sedap.

Ruang ke 5

Sebagaimana yang terjadi di ruang ke 3 sebagai ruang by pass agar air mengalir menuju ke ruang ke 6 dari arah bawah.

Ruang ke 6

Ini adalah ruang terakhir dari rangkaian proses filter kolam. Di harapkan kondisi air yang berada di ruang ke 6 ini berupa air dalam kondisi yang bening dalam arti telah tersaring dari berbagai macam kotoran, baik yang kasar maupun yang berupa at kimia yang mencemari air kolam. Dalam ruang terakhir ini biasanya ditempatkan lampu UV jika diperlukan atau dengan memasang MEDIA FILTER 3 yang memiliki rongga halus seperti dacron atau kapas. Penggunaan Dacron juga perlu perawatan yaitu dengan mencucinya karena rongganya yang halus maka cepat sekali tersumbat dan menghambat aliran air di dalam filter. Oleh sebab itu, pilihlah Dacron dengan rongga yang agak besar.

Image for post

Setelah keluar dari ruangan terakhir yaitu ruangan ke 6, maka air diharapkan telah menjadi lebih baik kualitasnya dan dapat mengalir kembali menuju ke dalam kolam.

Yang paling penting untuk dilakukan adalah secara teratur membuka keran bottom drain untuk membuang kotoran yang mengendap di dasar ruang filter. Mengenai seberapa sering atau frekuensinya, disesuaikan dengan intensitas kotoran yang ada semakin banyak koi yang dipelihara tentu harus semakin sering melakukan perawatan media filter.

Jika anda masih memiliki space yang cukup untuk membangun filter kolam, maka anda dapat membuatnya dengan menambah beberapa ruang filter untuk memperbesar kapasitasnya.

Tambahan Aerasi

Sebaiknya, ruang filter tidak rapat sebab bakteru yang hidup di dalamnya perlu pasokan oksigen yang cukup. Apabila diperlukan dapat menambahkan aerasi di dalam ruang filter yaitu dengan memasang blower (pompa udara) dan menempatkan airstone (batu gelembung udara) pada ruang-ruang kosong yaitu ruang ke 3 dan ke 5.

06 Oktober 2020

membuat pakan burayak ikan cupang sendiri

Biasanya para penghobi menyukai ikan ini karena bentuk dan juga warnaya yang mempesona, namun taukah anda sebenarnya sangat gampang sekali membudidayakan ikan betta sp ini. Namun sayangnya tidak semua orang mampu membudidayakan jenis ikan ini coba baca artikel kami cara mudah budidaya ikan cupang terutama saat anak ikan ini atau yang sering di sebut burayak telah menetas.

Burayak memiliki ukuran yang sangat kecil inilah yang menyebabkan ikan ini sangat susah di beri makan, namun kali ini kita akan bahas sama sama jenis makanan apa untuk membesarkan ikan ini.
Burayak yang baru menetas saat usia 1-3 hari kita tidak perlu memberi mereka makan. Dalam sekali menetas sekitar  500-1000 ekor dalam sekali menetas, namun biasnaya akan hidup sampe besar hanya berkisar 30-100 ekor saja. Dalam usia yang baru saja menetas burayak telah memiliki makanan dalam bekas telur mereka, jadi biarkan mereka makan makanan yang mereka bawa di dalam telur tersebut. 

Dalam tahap pembesaran inilah biasanya para pelaku budidaya melakukan kesalah sehingga mengakibatkan burayak mati. Burayak cupang sangat rentan sekali dengan kematian berikut ini beberapa hal yang harus di perhatikan agar burayak tidak cepat mati :

  1. Jangan taruh di tempat panas, apabila kita membudidayakan di luar rumah jangan taruh di tempat panas atau terkena hujan, jika perlu berikan tanaman air seperti ganggang, teratai atau enceng gondok.
  2. Jangan kotori air, burayak yang masih kecil sangat rentan terutama degan lingkungan yang kotor. Salah satunnya karena pemberian pakan burayak yang berlebih.
  3. Jauhkan dari pemangsa seperti katak burung atau sebagainya.
  4. Jangan terlalu sering di aduk, karena akan menyebabkan burayak setres hingga mengakibatkan burayak mati.


Itulah hal hal yang perlu di perhatikan di awal budidaya ikan cupang. Berikutnya adalah jenis pakan apa yang akan kita pakai setelah berumur tiga hari. 
Berikut ini kami berikan beberapa alternative jenis makanan yang cocok diberikan kepada anakan cupang atau burayak.

Cara membuat makanan ikan cupang dari kuning telur

Cara membuat makanan ikan cupang dari kuning telur

Kuning telur adalah makanan burayak yang biasa di pakai. Sangat mudah membuatnya serta gampang di aplikasikan. Kandungan protein yang tinggi pada kuning telur ini yang menjadi makanan utama pada burayak yang telah berumur 3 hari. 

Cara membuat pakan burayak dari kuning telur adalah yang pertama rebus telur bisa menggunakan telur ayam saja yang mudah di dapatkan. Setelah di rebus hingga matang ambil kuning telur tadi lalu taruh di mangkok, hancurkan menggunakan sendok di campur dengan air 3 sendok. Maka hasilnya akan seperti bubur nah setelah benar benar hancur dan lembut kini saatnya anda berikan keada burayak. 
Dalam satu kali perkawinan ikan cupang hanya menghasilkan 500-1000 cupang kecil atau burayak maka jangan memberikan makan terlalu banyak, cukup sedikit saja. 

Cara memberikan pakan pada burayak ini anda bisa menggunakan sebatang korek api atau sebatang lidi celupkan ujungnya pada kuning telur yang telah menjadi bubur tadi lalu masukkan ke dalam akuarium tempat anakan cupang tadi. Lakukan pemberian pakan ini 2 kali sehari.
Tidak perlu banyak banyak, pemberian pakan yang terlalu banyak justru akan mengotori akuarium bahkan memancing penyakit bagi burayak tadi.


Cara membuat pakan burayak dari kol

Cara membuat pakan burayak dari kol

Selain menggunakan kuning telur anda juga bisa menggunakan kutu air, kutu air merupakan hewan yang mengandung 60% protein dalam tubuhnya sehingga sangat baik untuk ikan terutama anakan ikan, terutama untuk ikan burayak. Ikan ini sangat cocok di beri makan kutu air, selain karena kandungan protein kutu air juga bisa bergerak di air sehingga memancing burayak untuk memakannya. Namun sayangnya kutu air sangat susah di dapatkan. 

Salah satu solusi untuk memberi kutu air pada anakan cupang adalah dengan berternak kutu air di rumah anda. 

Kutu air ada dua jenis, yaitu warna merah dan warna hitam. Kali ini kita akan belajar berternak kutu air warna hitam yang mudah dan bisa anda praktekkan.

Bahan utama dalam pembuatannya adalah kola tau kubis. Waktu pembuatannya sekitar 7 hari sehingga anda bisa berternak kutu air dulu sebelum anda mengawinkan cupang anda.

Pertama tama siapkan ember yang telah di isi air bersih hingga ¾ aatau tidak sampai penuh. Lalu masukkan kol atau kubis. Berikutnya silahkan di tutup agar tidak kemasukkan jentik nyamuk. Namun apabila anda ingin berternak jentik sekalian agar jentik dapat anda berikan pada ikan cupang yang dewasa. Namun apabila tidak mau anda bisa menutup rapat rapat. 
Cara membuat pakan burayak dari kol

Biarkan selama satu minggu agar kubis busuk dan tenggelam di dasar ember. Ketika anda buka pada hari ke tuju akan terlihat hitam air tadi, perhatikan baik baik di situ aka terlihat seperti ada jentik jentik namun lebih kecil, itulah yang di sebut kutu air, saring menggunakan kain halus berwarna putih. Setelah itu anda bisa masukkan di dalam kolam burayak sebagai makanan anakan cupang.


Cara membuat microworm untuk pakan burayak 

Cara membuat microworm untuk pakan burayak

Bukan hanya dari kuning telur serta kutu air saja ada banyak alternative pakan burayak yang bisa anda gunakan. Salah satunya adalah microworm. Ya seperti namanya microworm adalah anakan cacing atau cacing kecil yang bisa kita ternakkan. Langsung saja kita bahas bagaimana car apembuatan microworm.

Pertama tama kita siapkan karbohidrat sebagai makanan microworm sekaligus sebagai bahan makanannya. Kita bisa menggunakan nasi maupun kentang. Saya lebih merekomendasikan kentang. Pertama belah kentang menjadi dua lalu rebus kentang hingga setengah matang. Setelah di rebus tunggu hingga dingin barulah siap kita jadikan media microworm.

Taruh kentang rebusan tadi di bawah tanah usahakan di bawah pohon yang terdapat sampah atau bawah pohon pisang lebis cepat karena tempatnya yang lembab. Tunggu hingga tiga hari lalu buka apakah sudah ada telur microwormnya. Jika sudah ada tanda tanda akan membusuk barulah letakkan di mangkok kemudian tutup rapat dan biarkan kentang tadi membusuk. Biasanya sekitar 2 hari akan segera membusuk dan muncul seperti belatung kecil itulah yang di sebut microworm.

28 September 2020

manajemen pengobatan ikan melalui pakan

 

Ketika sakit, kebanyakan ikan akan berhenti makan. Gejala ini merupakan gejala awal dari permasalahan budidaya ikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat dalam pakan. Pakan yang mengandung obat ini disebut dengan Medicated Feed. Cara ini cukup umum dilakukan pada budidaya ikan dibandingkan budidaya kerang. Dan ikan hias, termasuk salah satu komoditas yang paling sering diberikan obat melalui metode ini.  

Pemberian obat bersamaan dengan pakan memiliki kelebihan, disamping lebih praktis, cara ini mampu mengurangi munculnya gejala penyakit, keparahan, bahkan kematian. Pemberian obat dengan metode ini cukup efektif digunakan pada ikan yang dibudidayakan dalam wadah besar. Cara pemberiannya juga lebih aman dibandingkan injeksi ataupun perendaman. Namun demikian, pengobatan melalui pakan memiliki kekurangan yakni kurang ekonomis dan keberhasilannya bergantung pada status dan sifat dari tiap-tiap penyakit. Meskipun merupakan metode termudah untuk pengobatan pada ikan, pemberiannya harus dilakukan dengan segera dan cepat sebelum ikan sama sekali tidak makan.

Pada dasarnya berbagai agen antimikrobial termasuk antibiotik, antifungal, antiparasit bisa dipergunakan dalam formulasi pakan ikan. Sayangnya ada beberapa obat diperbolehkan dicampur dengan pakan. Pakan yang mengandung obat bisa tersedia dalam skala komersial, baik berbentuk pelet terapung maupun tenggelam. Pada pelet kering, obat sebelumnya dilarutkan dalam air atau minyak. Obat disiapkan untuk dicampur menggunakan binder atau bahan pengikat, bisa gelatin (hingga 5%), ikan, minyak sayur atau disemprotkan atau dengan melapisi pakan. Obat dan pakan harus dicampur merata sehingga menutupi pelet. Pengeringan permukaan pelet atau pelapisan dengan minyak akan mengurangi pemuruhan obat. Untuk pakan basah, obat dicampur terlebih dahulu dengan bahan pakan lalu dicetak. Jika menggunakan alat pencampur atau mikser, pelet dimasukkan terlebih dahulu, lalu obat, dan bahan pengikat. Kendala umum yang ditemukan dalam persiapan pakan bersalut obat ini adalah homogenesitas yang sulit tercapai. Apabila memungkinkan, sejumlah sampel baiknya diambil untuk melihat homogenesitas pakan. Untuk penyimpanan, sama seperti pakan ikan biasa, pakan yang mengandung obat sebaiknya disimpan pada tempat yang kering dan sejuk. Jika memungkinkan pakan diletakkan pada freezer untuk penyimpanan jangka panjang. Pakan tersebut yang sudah tidak dipakai lagi disimpan pada suhu kamar dan dibuang setelah 3-4 bulan

Pada penerapan, pemberian obat melalui pakan dapat dilakukan untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Pengobatan melalui pakan jangka pendek umum digunakan untuk menangani infeksi bakterial. Sedangkan untuk jangka panjang dosis yang digunakan biasanya lebih rendah dan bertujuan untuk pencegahan ataupun pemicu pertumbuhan. Namun demikian, penggunaan obat khususnya antibiotik dalam pakan sebagai pencegahan tidak dianjurkan.

Pada penggunaan obat melalui pakan, terdapat beberapa faktor yang membatasi keefektifan metode ini. Pertama, secara umum, ikan tidak menyukai rasa dari pakan yang dicampur obat. Beberapa jenis obat palatabilitasnya kurang atau terasa pahit. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan kadar tepung ikan hingga 16%. Peningkatan palatabilitas juga dapat dilakukan dengan menambagkan tepung hati. Kedua, pada saat sakit, secara umum ikan tidak bersemangat makan sehingga konsumsi pakan tidak banyak dan dosis obat yang diberikan bisa jadi tidak mencukupi. Jika hanya ikan aktif saja yang makan, rasio pakan harus lebih optimal dan frekuensinya diperbanyak.

Selain kedua hal tersebut, permasalahan dalam penggunaan obat yang dicampur pakan adalah larutnya obat dalam air, terutama pada obat yang melapisi permukaan pelet. Larutnya obat ini ditentukan oleh faktor kelarutan air akan suhu, bahan kimia, waktu pemberian, dan ukuran pelet. Semakin kecil pelet, potensi larutnya makin besar. Pemberian pakan ini dalam suhu tinggi akan mempengaruhi peluruhan obat. Permasalahan palatabilitas dan peluruhan ini dapat diatasi dengan menggunakan binder khusus yang mengnsung alginat sehingga obat dapat melekat hingga beberapa jam di air. Binder juga sebaiknya mengandung atraktan untuk meningkatkan palatabilitas. Binder lain yang mengandung asam lemak poliunsaturated yang distabilisasi juga dapat digunakan. Pada ikan laut, permasalahan pengobatan melalui pakan adalah turunnya bioavailabilitas dari obat seperti antibiotik tetrasiklin karena terikat dengan ion Mg dan Ca yang banyak ditemukan di air laut. Obat yang tidak larut ini akan mencemari lingkungan. Namun demikian, hal yang menarik dari ikan laut adalah kecenderungannya untuk banyak minum air dibandingkan ikan air tawar. Sehingga, meskipun di dalam saluran pencernaan obat tidak terserap bisa berperan dalam mencegah masuknya patogen.

Dari berbagai hal yang disebutkan di atas, hal lain yang perlu diperhatikan pada penggunaan antibiotik adalah catatan pada label terkait waktu luruh obat sebelum ikan dipanen dan dipasarkan. Jenis antibiotik yang digunakan juga harus mengacu pada peraturan pemerintah mengenai penggunaan obat yang diizinkan. Hal ini penting karena berkaitan dengan resistensi dan residu antibiotik pada ikan. Penggunaan obat melalui pakan juga berpotensi menimbulkan cemaran pada lingkungan melalui pakan yang tidak termakan atau hasil eliminasi pakan sebagai feses atau produk buangan melalui urin dan insang.  Fraksi yang larut air akan bercampur dengan air sedangkan obat akan berasosiasi dengan bahan organik dan tenggelam di dasar kolam. Pada sedimen, faktor seperti kelarutan air, afinitas partikel organik, photostability, dan degradasi mikrobial dan chemical menentukan keberadaan obat pada sedimen.

02 September 2020

FCR pada budidaya ikan

 

Merupakan jumlah total berat pakan buatan dibandingkan dengan jumlah berat total komoditas hasil panen. Atau dalam Bahasa sederhana, FCR dapat diartikan sebagai suatu perhitungan, seefisien apakah komoditas yang dipelihara untuk dapat mengkonversi pakan menjadi bobot.

Pentingnya mengetahui nilai FCR

Pengetahuan tentang FCR membuka informasi mengenai keterkaitan antara pakan dan berat badan. Informasi ini sekaligus akan berkaitan dengan nilai ekonomis efisiensi pertumbuhan selama memberikan pakan. Sebagaimana diketahui bahwa kebutuhan biaya pakan dalam produksi budidaya dapat mencapai lebih dari 50%. Kemampuan mengefisiensi jumlah pakan yang menjadi bobot, bermakna keuntungan besar. FCR juga menjadi indicator dari kualitas pakan, kemampuan SDM untuk mengelola pakan dan kesehatan ikan, serta efisiensi biaya yang digunakan untuk pemberian pakan. Semakin rendah FCR, semakin rendah biaya pakan yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1kg daging. Lebih luas lagi, keberhasilan mengefisiensikan pakan dapat bermakna efisiensi sistem budidaya sekaligus kemampuan efisiensi biologis terkait dampak lingkungan.

Nilai FCR ideal

Nilai FCR antar spesies dan ukuran ikan berbeda-beda. FCR yang umum untuk udang antara 1,2 – 1,5. Semakin kecil nilai FCR maka semakin besar keuntungan yang diperoleh. Pada ikan, FCR yang baik antara 1,5-2. FCR tidak disarankan melebihi dari 2, demi keefektifan dan keekonomisan usaha budidaya. Pada ikan lele ataupun nila FCR dapat mencapai 1,8 atau lebih rendah. Sedangkan pada tokolan lele, nilai konversi pakannya 1,0-1,2. Pada ikan atlantic salmon dan rainbow trout, FCR antara 1,0 hingga 1,2, hal ini disebabkan kedua spesies ini membutuhkan lebih banyak protein, lemak, dan serat yang rendah. Nilai FCR dapat kurang dari 1, jika ikan dipelihara dalam kolam yang banyak mengandung pakan alami. Ikan dapat makan baik dari alam maupun pellet. Namun sangatlah sulit mencapai FCR <1 sebab ikan juga harus menggunakan pakan untuk metabolisme, pencernaan, respirasi, rangsangan panas, osmoregulasi, energi, dan aktivitas kehidupan lainnya. FCR akan bervariasi pada tiap spesies, ukuran, aktifitas ikan, parameter lingkungan, dan sistem budidaya.

Rumus FCR

FCR = Total pakan yang diberikan (kg)

                    Total bobot ikan (kg)

Cara menghitung FCR

1. Di akhir masa produksi, diperoleh bobot akhir sebanyak 150kg. Selama masa budidaya dihabiskan pakan sebanyak 200kg.

a. Berapakah pakan yang digunakan untuk dapat menghasilkan 1 kg daging ikan yang dipanen?

FCR = Total pakan yang diberikan (kg)

Total bobot ikan (kg)

FCR = 200kg

           150kg

FCR = 1,4

(dibutuhkan 1,4 kg pakan untuk menghasilkan 1kg daging ikan).

b. jika setiap kg pakan dijual seharga Rp.10000/kg, berapa biaya produksi untuk menghasilkan 1kg daging ikan?

Biaya pakan = jumlah pakan untuk menghasilkan 1kg daging (FCR) x harga pakan

                        = 1,4kg  x Rp.10.000

                        = Rp. 14.000

Kaitan FCR dan biaya produksi

Antara FCR, kualitas pakan, dan biaya produksi sangat berkaitan

Coba perhatikan contoh berikut

Petani A: memberikan pakan dengan protein 36%. Harga per kilogram pakan adalah Rp.10.000. FCR yang diperoleh diakhir budidaya adalah 1,3 yang artinya membutuhkan 1,3kg pakan untuk menghasilkan 1 kg ikan. Jika targetnya adala 1000kg ikan, maka pakan yang dibutuhkan adalah 1300kg, dan biaya pakan yang dikeluarkan adalah Rp. 13.000.000

Petani B: memberikan pakan dengan protein 28%. Harga per kilogram pakan adalah Rp.8.000. FCR yang diperoleh diakhir budidaya adalah 3,2 yang artinya membutuhkan 3,2kg pakan untuk menghasilkan 1 kg ikan. Jika targetnya adala 1000kg ikan, maka pakan yang dibutuhkan adalah 3200kg, dan biaya pakan yang dikeluarkan adalah Rp. 25.600.000

Kaitan FCR dan Protein

Semakin tinggi nilai protein, makin rendah FCR nya. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg ikan dibutuhkan lebih sedikit pakan. Pakan dengan protein tinggi tentu memiliki harga yang lebih mahal namun jumlah yang digunakan selama budidaya akan lebih sedikit. Hal ini artinya lebih ekonomis

Faktor yang mempengaruhi nilai FCR

Terdapat empat poin utama yang mempengaruhi nilai FCR yaitu:

a. ikan

- jenis ikan yang dipelihara

Misalnya nila baik dipelihara di kolam tanah daripada lele

- ukuran ikan

Benih membutuhkan protein kadar tinggi dengan ukuran kecil dibandingkan ikan dewasa

- kualitas benih

Terkait kesehatan ikan, apakah ikan stress, apakah padat tebar tiap kolam sudah tepat?

- kesehatan ikan

Ikan yang sehat akan lebih efisien mengkonversi pakan dibandingkan yang sakit. Kematian ikan juga berdampak besar terhadap meningkatnya FCR dan menurunnya profitabilitas.

- genetik

Terdapat strain-strain tertentu yang lebih efisien mengkonversi pakan.

b. lingkungan

Terkait dengan suhu, oksigen, ammonia, pH, dan polutan lain dalam air. Ikan yang hidup dengan lingkungan optimal akan menggunakan pakan lebih efisien untuk pertumbuhan. Hal ini berbeda dengan ikan yang terkena dampak stress lingkungan.

c. manajemen pakan

Orang yang bertanggung jawab terhadap pakan harus melakukan tugasnya yaitu:

- melatih/ mengadaptasi ikan untuk merespon terhadap pakan

- terus memonitor dan mengevaluasi respon pakan bersamaan dengan tampilan melalui pengamatan dan rekaman

- memonitor jumlah dan ukuran ikan

- menarik kesimpulan terhadap kolam dan rekaman pakan, termasuk kebiasaan makan ikan, serta menerapkan tindakan lanjutan (missal, jenis, ukuran, kualitas, jumlah, frekuensi dari pakan, kualitas air, dll)

d. pakan

- kualitas

Pakan harus berkualitas baik secara tampilan maupun nutrisi. Ikan harus diberikan pakan dengan ukuran dan nutrisi yang sesuai. Integritas pellet dalam air juga penting

- kuantitas

Dapat dilihat dari penentuan jumlah pakan yang tepat.

Irisan dari keempat factor ini akan berinteraksi dengan faktor lingkungan, kejenuhan oksigen, dan suhu.

Memperbaiki (~ menurunkan ) nilai FCR

Nilai FCR dapat diperbaiki dengan memperbaiki pengelolaan dan parameter lingkungan seperti kadar oksigen, untuk level pembesaran pada komoditas carp, catfish, tilapia, dan udang laut. Pengelolaan pakan juga harus diperbaiki, salah satunya adalah dengan memberikan pelatihan kepada staf yang bertanggung jawab terhadap pemberian pakan.  Telah dikatakan sebelumnya bahwa FCR tidak boleh melebihi 2. Jika melebihi, maka harus diperiksa kembali kemungkinan terkait pakan, misalnya:

- kualitas pakan buruk

- ukuran pakan ataupun nutrisi dari pakan tidak sesuai dengan ikan yang dibudidayakan

- kondisi ikan yang stress, misalnya DO rendah atau kepadatan tinggi

- Overfeeding, pakan berlebih

- Kelulushidupan. Survival rate/ SR rendah.

- terus memberikan pakan untuk pertumbuhan ketika kapasitas kolam sudah melebihi

Atau hal-hal yang berkaitan dengan factor lingkungan harus dikendalikan. Terkait budidaya beberapa saran yang diberikan antara lain: padat tebar harus dalam taraf wajar, pembesaran yang dimulai dari tokolan akan lebih menguntungkan, menggunakan sistem satu siklus, memanen lebih sering jika menggunakan multi siklus, pemberian pakan secara hati-hati untuk menghindari pakan terbuang.

Manajemen FCR

Nilai FCR dapat dikelola dengan mengendalikan factor yang mempengaruhi nilai FCR. Kombinasi factor pakan, lingkungan, ikan, manajemen pakan disertai nafsu makan ikan yang baik akan menentukan jumlah pakan yang dimakan, dicerna, dan digunakan untuk pertumbuhan. Manajemen FCR paling utamanya adalah dengan memperhatikan kualitas pakan. Koreksi selalu manajemen pakan

- apakah pakan sudah tepat? Kualitas, ukuran, jumlah,

- apakah sudah melakukan penghematan dalam penggunaan pakan? Ini terkait biaya dan lingkungan

- apakah kondisi kolam sudah ideal? Cek kembali padat tebar, ukuran ikan

- apakah ikan overfeeding?

- apakah pemberian pakan sudah benar? Frekuensi, waktu pemberian tidak berganti-ganti

- Bagaimana respon ikan terhadap pakan?

- apakah sudah melakukan pencatatan dengan benar?

FCR dan Lingkungan

Perhitungan FCR disamping menghitung konversi pakan sekaligus menghitung efisiensi produksi akuakultur. Konversi pakan juga mengindikasikan kondisi dari lingkungan terkait dengan produk buangan yang tidak diinginkan serta hilangnya nutrient ke dalam lingkungan yang  berdampak pada etrofikasi, hilangnya keberagaman, dan ekosistem lainnya. Kematian dan kematian yang tak diketahui juga menjadi faktor terhadap timbulnya gas rumah kaca karena dampak terhadap FCR dan kebutuhan pakan. Semakin efisien pakan, semakin dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dan mampu meningkatkan FCR secara signifikan.